Social Media
Google+ Load...
Facebook Load...

Teknik Pencahayaan dalam Photography Bag. 2

Oleh : Tigor Lubis

Sahabat BP yang berbahagia, seperti pada tulisan saya terdahulu pada artikel Teknik Pencahayaan dalam Photography Bag.1, Zone System sudah sedikit saya singgung namun masih sangat mendasar. Maka pada tulisan ini akan saya coba untuk membahas lebih mendalam dan cara penggunaannya.
 
Zone System
Perlu saya ingatkan bahwa agar lebih dimengerti maka foto-foto yang akan saya gunakan disini adalah foto-foto hitam putih dengan alasan bahwa hitam putih pada fotografi bukanlah warna hitam dan warna putih namun berarti gelap dan terang. Saya beri sedikit contoh, menjadi warna apakah bila benda berwarna merah di foto dengan hitam putih ? Mari kita perhatikan gambar berikut:

TP2Image01

Pada foto 1a terlihat bahwa kacamata yang berwarna merah cenderung menjadi abu-abu muda atau putih dan pada foto 1b terlihat bahwa kacamata yang sama cenderung berwarna abu-abu gelap atau hitam. Disini terlihat bahwa hitam putih pada fotografi bukan warna hitam dan warna putih namun kita bicara gelap terang atau intensitas cahaya.
 
Kini mari kita mulai pembahasan tentang zone system, sebelumnya ingin saya ingatkan kembali diagram zone system sbb:

TP2Image02

Masih ingatkah dengan diagram ini ? Merujuk pada bahasan sebelumnya tentang teknik pencahayaan bagian 1, sempat kita bahas tentang cara kamera mengukur cahaya (Exposure or Metering). Seluruh sistem pengukuran cahaya pada kamera saat ini akan mengambil rata-rata cahaya yang terekam (dari titik yang paling terang hingga titik yang paling gelap) dan mengambil titik tengah nya yang dikenal dengan sebutan 18% grey (abu-abu 18%).
Nah, seperti apakah 18% grey itu ?. Disinilah kita akan diperkenalkan dengan zone sistem dimana pada zone sistem 18% grey itu sama dengan zone V. Zone V ataupun 18% grey ini walaupun teori lama namun tetap dijadikan patokan dalam menentukan skala pencahayaan pada kamera, namun cara menentukan titik-titik pengukuran cahayanya yang semakin canggih. Misalkan pada kamera jadul cara pengukuran cahaya hanya terbagi 5 areal yang kemudian diambil rata-ratanya. Namun pada kamera canggih saat ini areal pengukurannya terbagi hingga 36 titik (sudah bukan areal lagi).
 
Selanjutnya diagram 1a diatas bila saya terjemahkan dengan kamera saya akan menjadi seperti gambar berikut:

TP2Image03

Pada diagram 1b ini, bahwa pada zone 5 detail gambar terlihat lengkap. Antara warna hitam dan warna putih cukup berimbang. Maka kita katakan bahwa zone 5 adalah zone tengah.
 
Perbandingan cahaya = Pencahayaan
Sempat saya katakan pada tulisan saya terdahulu bahwa “Pembentukan sebuah imaji bagi saya tidak lebih dari permainan perbandingan. Perbandingan yang kita bicarakan disini adalah perbandingan cahaya pada sebuah frame yang akan kita rekam.”
 
Mari kita bahas perbandingan cahaya ini.
Suatu saat ketika anda hendak membuat sebuah foto dan mengintip pada view finder kamera anda, simaklah baik-baik. Pada frame tersebut dapat dipastikan ada titik terang dan ada pula titik gelap.
Dari titik yang paling terang hingga titik yang paling gelap dapat kita temukan titik tengahnya yang bila dalam pembahasan diatas kita sebut sebagai 18% Grey atau Zone V pada Zone System. Bila titik-titik ini kita anotasikan dalam bilangan-bilangan matematika maka titik tengahnya bisa kita sebut dengan rata-ratanya. Dan skala rata-rata inilah yang akan di gunakan oleh semua sistem perhitungan pencahayaan pada kamera, baik kamera yang menghitung dengan membagi areal view finder dalam 5 areal maupun kamera yang menghitung dengan membagi areal view findernya dalam 36 titik.
Mari kita permudah dengan cara membagi 2 areal pencahayaan saja yaitu arah cahaya datang dan area bayangan. Cara ini dapat dengan mudah kita hitung dengan menggunakan telapak tangan kita.

Coba perhatikan gambar berikut:
TP2Image04

  1. Gunakan setting manual pada kamera anda
  2. Disini arah matahari datang dari kiri belakang kamera
  3. Arahkan lensa pada telapak tangan yang terkena sinar matahari langsung
  4. Pecet tombol shutter setengah, abaikan fokus, carilah skala pencahayaan normal
  5. TP2Image05

  6. Ingat skala cahaya langsung ini (kita umpamakan ISO 100, f/4 dan speed 1/1000)
  7. Kemudian geser telapak tangan anda sampai daerah yang tidak terkena sinar matahari langsung. Misalkan areal bayangan badan anda.
  8. Pecet tombol shutter setengah, abaikan fokus, carilah skala pencahayaan normal
  9. Ingat kembali skala bayangan ini (kita umpamakan ISO 100, f/4 dan speed 1/250)

 
Selanjutnya mari kita simak gambar berikut:
TP2Image06

Bila saya tetapkan satuan ISO 125 dan aperture f/4, maka speed akan mengikuti (baca ulasan trylogi pemotretan).
dimana speed pada sisi kanan gambar adalah 1/1000 dan sisi kiri gambar adalah 1/250, dengan pembahasan sbb:

  1. Pada gambar 3a setting pada kamera adalah ISO 125, f/4, speed 1/250.
    Bisa kita lihat bahwa areal yang terkena langsung sinar matahari yaitu rata-rata sisi kanan objek terlihat putih hingga hilang detail gambarnya. Namun daerah yang tidak terkena sinar matahari langsung yaitu rata-rata sisi kiri objek terlihat sangat detail. Bisa kita katakan pada gambar 2 a ini zone 5-nya adalah mata kiri objek. Bila kita bandingkan dengan diagram 1b, maka zone yang ada pada foto ini adalah zone 4 hingga zone 10.
  2. Pada gambar 3c setting pada kamera adalah ISO 125, f/4, speed 1/1000.
    Sebaliknya pada foto ini kita lihat bahwa areal yang terkena langsung sinar matahari yaitu rata-rata sisi kanan objek terlihat lebih detail gambarnya. Namun akibatnya, daerah yang tidak terkena sinar matahari langsung yaitu rata-rata sisi kiri objek menjadi gelap bahkan cenderung hitam pekat. Bisa kita katakan pada gambar 2 c ini zone 5-nya adalah pipi bawah mata kanan objek. Bila kita bandingkan dengan diagram 1b, maka zone yang ada pada foto ini adalah zone 0 hingga zone 6.
  3. Pada gambar 3b setting pada kamera adalah ISO 125, f/4, speed 1/500.
    Pada gambar ini, ruang putih serta ruang hitam lebih berimbang dimana detail baju sisi kanan dan sisi kiri tidak saling memberatkan sati sisi dengan yang lainnya. Dan bila kita bandingkan dengan diagram 1b, maka zone yang ada pada foto ini adalah zone 2 hingga zone 8.

Catatan: Perlu saya ingatkan disini bahwa saya tidak mengatakan bahwa gambar 3b adalah yang paling benar, namun disini saya hanya ingin menggambarkan seperti inilah perbandingan cahaya pada fotografi berdasarkan zone system.

Mari kita lihat foto selanjutnya. Pencahayaan diruang ini jauh lebih gelap dan arah cahaya matahari dari dari atas kepala. Skala yang digunakan adalah ISO 125, f/2,8 dan speed pada arah cahaya matahari adalah ¼ dan arah bayangan 1 detik. Maka:

TP2Image07

Sama seperti pada gambar 3 dimana gambar 4a skala pencahayaan yang saya gunakan mengikuti pengukuran di areal yang tidak terkena sinar matahari langsung (atau areal shadow) yaitu ISO 125, f/ 2,8 dan speed 1 detik. Sementara gambar 4c menggunakan pengukuran di areal yang terkena cahaya matahari langsung yaitu ISO 125, f/2,8 dan speed ¼. Dan terakhir pada gambar 4b saya mengambil pengukuran tengah yaitu ISO 125, f/2,8 dan speed ½.
 
Yang ingin saya tekankan disini bahwa dari 2 jenis intensitas pencahayaan yang berbeda hasilnya bisa menyerupai. Anda bisa lihat hitam (Zone 0), abu-abu (Zone V) dan putih (Zone 10) pada ke 6 gambar ini ternyata sama. Artinya dalam kondisi apapun cahayanya dapat di rekam oleh kamera, selama perpaduan antara ISO, Aperture dan Speed tepat.
 
Yang memiliki batasan adalah kemampuan kamera (dalam hal ini sensor) yang hanya bisa menangkap 11 zone dari gelap ke terang, berbeda dengan mata manusia yang bisa menangkap ratusan level pencahayaan (zone). Dan dikarenakan hanya 11 zone (level pencahayaan) yang bisa ditangkap kamera, maka tugas anda sebagai pencipta karya adalah menentukan titik tengahnya atau zone V dari setiap foto yang akan kita buat.
 
Titik tengah atau zone V dari setiap gambar tidak selalu harus berada di posisi tengah frame. Tidak juga harus berada pada objek utama, dimanapun bisa, namun yang harus anda pertimbangkan adalah apa-apa saja unsur yang akan anda sertakan dalam cerita anda tersebut. Dan maklum saja bila ada satu-dia unsur yang tidak anda perlukan dibuang dengan cara meletakkan unsur tersebut dalam zone 0 (hitam) ataupun zone 11 (putih).
 
Pada contoh gambar di atas, pada gambar 3a dan 4a penekanan saya pada mata objek dan saya tidak terlalu peduli pada detail rambut ataupun jaketnya, maka saya letakkanlah areal tersebut pada zone 9, zone 10 bahkan zone 11. Sebaliknya pada gambar 3c dan 4c penekanan saya tertuju pada rambutnya, dimana saya tidak pedulikan areal wajahnya jadi saya buang dengan cara meletakkan areal tersebut pada zone 2, zone 1 bahkan zone 0. Namun jangan salah bahwa pada kedua foto inipun anda tetap akan mendapatkan zone-zone lainnya bahkan zone 10 tetap ada pada daerah rambutnya.
 
Ada alternatif diantara kedua pencahayaan tadi yaitu skala antara pencahayaan pertama dan pencahayaan kedua, dan itu terjadi pada gambar 3b dan 4b. Otomatis yang terjadi disini adalah pergeseran zone pada setiap gambarnya. Bila anda perhatikan, rambut yang ada di kepala bagian atas pada gambar 4a tidak tampak detail. Sementara pada gambar 4b rambut tersebut mulai terlihat. Artinya rambut yang pada gambar 4a terdapat di zone 9 dan zone 10 bergeser pada gambar 4b menjadi zone 8 dan zone 9. Dan bila kita lihat pada diagram 1b dimana zone 8 dan zone 9 masih tertangkap detailnya.
 
Demikian pula sebaliknya, muka pada gambar 4c tidak tertangkap detailnya dikarenakan dia berada di areal zone 0 dan zone 1. Sementara pada gambar 4b detail muka mulai tertangkap dikarenakan terjadi pergeseran zone menjadi zone 2 dan zone 3. Dan kembali kita lihat diagram 1b, zone 2 dan zone 3 masih tertangkap detailnya. Maka disini yang terjadi adalah:

  1. Objek apa saja yang ingin kita libatkan pada gambar (kembali pada konsep).
  2. Transformasikan objek-objek tersebut pada tingkat pencahayaan.
  3. Dengan demikian keluarlah objek yang paling terang dan objek yang paling gelap.
  4. Cari titik tengahnya dan itulah zone V gambar anda.
  5. Masukkan skala pencahayaan zone V tersebut pada kamera.

Disini dapat kita simpulkan bahwa zone system ini berfungsi untuk menyeleksi atau membatasi unsur-unsur mana saja yang ingin kita libatkan dalam gambar berdasarkan tingkat terang gelapnya.
 
Demikian untuk sementara bahasan tentang Teknik Pencahayaan bagian ke 2 ini saya akhiri.
Semoga dapat bermanfaat.

Tentang Penulis:
TigorLubis2Tigor Lubis
Professional Photorapher
tigorlubis@yahoo.com
+622193491747
+6287877970214
BB 2703439F
 
 

Share this on : TwitterFacebookGoogle+

10 Responses to Teknik Pencahayaan dalam Photography Bag. 2 ▼

  • wahh ahahaha bener-bener baru tahu ilmu fotografi sedetail ini tentang pencahayaan, biasanya saya hanya memakai ilmu kira-kira (asal pas asal bagus) dan belum mengerti jika ada teori sedetail ini, walaupun masih agak bingung ketika baca tutorialnya untuk mengatur kamera (karena saya belum punya kamera DSLR apalagi profesional hehe) biasanya pakai HP saja 😀 nanti kalo sudah punya kamera DSLR pengen belajar juga ah 😀

    Reply
    • Avatar Image
      Admin

      Sebenarnya teknik photography hanya untuk panduan/referensi ketika kita menggunakan peralatan photography secara umum sehingga hasil photo yang didapat sesuai dengan keadaan aslinya (tidak kurang dan tidak lebih). Namun banyak juga photographer terkenal yang hanya menggunakan sense of art feeling mereka dalam mengambil gambar objeknya seperti Nicoline Patricia, Carol Guzy dll. Salam 😀

      Reply
  • ternyata ada teknik tersendiri ya pak untuk pencahayaan dalam foto memfoto ini. Saya kira asal jepret ajah hehehe 😀
    makasih ya sudah share 😉

    Reply
    • Avatar Image
      Admin

      Hai.., selamat datang di blog kami ‘jeng Rin 😀
      Pada dasarnya teknik-teknik dalam photography dimaksudkan untuk lebih mengarahkan pengguna kamera (yang merupakan peralatan teknis), agar tepat/benar dalam penggunaannya hingga didapat hasil photo yang lebih “Sempurna”.
      Namun dikarenakan saat ini banyak kamera bermunculan yang sudah memiliki fitur “Auto”, jadi bila dirasa hasilnya cukup baik/baik, kita bisa asal jepret saja hehehe ❓ 🙂
      Terima kasih atas kunjungannya ‘jeng Rin. Salam sukses selalu 😀

      Reply
  • wus, aku tidak pernah belajar tentang pencahayaan, pantes hasilku pas-pasan dan gak menarik ya mas

    Reply
    • Avatar Image
      Admin

      Yap, Teknik Pencahayaan dalam Photography merupakan teknik dasar yang sangat wajib dimiliki para penghobi photography.
      Bahasan bang Tigor mengenai hal tsb. cukup mudah dan praktis mas…!, jadi ya kayaknya pantas untuk dipakai sebagai dasar pemotretan.
      Matur suwun mas, salam sukses selalu 😀

      Reply
  • Seneng bisa dapatin pencerahan dan ilmu seputar tehnik ini ..dari sang masternya
    Jadi sedikit2 tahu sekarang
    Terima kasih ya mas Bob 🙂

    Reply
    • Avatar Image
      Admin

      Bang Tigor Lubis memang sang master untuk urusan per-photography-an mas Bud 😀
      Terima kasih kunjungan dan supportnya mas, semoga dapat bermanfaat.
      Salam sukses selalu 🙂

      Reply
      • sukses juga buat mas boby dan bang tigor…pastinya 🙂

        Reply
        • Avatar Image
          Admin

          Terima kasih atas segala supportnya mas Budi 😀

          Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Checked to confirm * 

Recent Posts

Kamera DSLR paling aneh dan unik di dunia

Kamera DSLR paling aneh dan unik di duniaBerbagai inovasi pada kamera digital terus-menerus dilakukan oleh berbagai kalangan, baik yang dilakukan oleh ... Selengkapnya

Tips fotografi keluarga

Tips fotografi keluargaBiasanya keadaan paling sulit yang dirasakan seorang fotografer, adalah ketika ia diminta untuk melakukan ... Selengkapnya

10 Kamera ponsel terbaik 2016

10 Kamera ponsel terbaik 2016Kembali kami meng-update artikel tentang Kamera Ponsel yang masuk dalam kategori terbaik untuk tahun ... Selengkapnya

UV Filter lensa kamera DSLR

UV Filter lensa kamera DSLRSering timbul pertanyaan diantara pehobi fotografi, terutama pehobi fotografi pemula, apakah lensa kamera DSLR ... Selengkapnya

7 Latihan fotografi praktis sehari-hari

7 Latihan fotografi praktis sehari-hariPepatah mengatakan, "Bisa karena biasa" atau kata istilah orang kulon "Practice makes more perfect" ... Selengkapnya

Kereta Merdeka atau Mati

Kereta Merdeka atau MatiPada jaman perjuangan fisik melawan para penjajah negri tercinta ini, dikenal sebuah sebutan Kereta ... Selengkapnya

15 Drone murah untuk pemula

15 Drone murah untuk pemuladunia fotografi dan videografi saat ini tengah menggandrungi sebuah alat bantu baru super canggih ... Selengkapnya

10 Kamera ponsel terbaik 2015 Eps.2

10 Kamera ponsel terbaik 2015 Eps.2Berbagai inovasi tak henti-hentinya dilakukan oleh berbagai produsen ponsel / hp / smartphone untuk ... Selengkapnya

Kamera kompak-saku terbaik 2015

Kamera kompak-saku terbaik 2015Kamera kompak-saku (compact-pocket camera) memang merupakan kamera yang serbaguna, ringan dan praktis untuk digunakan ... Selengkapnya

Jakarta di waktu malam

Jakarta di waktu malamPada kesempatan kali ini saya mencoba menampilkan karya foto yang sedikit berbeda dalam pengambilannya. ... Selengkapnya

10 Kamera ponsel terbaik 2015

10 Kamera ponsel terbaik 2015Sahabat BP. Berbagai jenis dan merk ponsel / hp / smartphone yang dilengkapi dengan ... Selengkapnya

10 fotografer terkaya di dunia

10 fotografer terkaya di duniaSahabat BP yang berbahagia. Dalam rangka menjelang detik-detik menyambut Tahun Baru 2015, kami hadirkan ... Selengkapnya